Jumat, 27 Juni 2025

HIjrah Kemana Kita?

Tanggal 1 Muharram yang dikenal dengan Tahun Baru Hijriyah adalah momentum berpindahnya Rasulullah SAW bersama para sahabatnya dari Makkah menuju Madinah yang saat itu masih bernama Yatsrib. Perpindahan tempat ini disebut dengan hijrah. Lalu memperingati muharram ini, kemanakah kita akan berhijrah dan sudahkah kita temukan "madinah" kita?

Mungkin dalam benak kita muncul satu pertanyaan paling sederhana saat melintas di Kepala kita tentang hijrah, “Kemana”. Tidak salah juga lho, berpikir soal lokasi karena kata hijrah memang bersandingan dengan migrasi atau berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain yang berbeda. Apalagi jika kita ingat bahwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW yang dijadikan latar 1 Muharram itu memang faktanya adalah perpindahan dari Makkah ke Madinah. 

Jadi ya jangan terbaru-buru juga untuk menutup ruang memaknai hijrah itu berpindah tempat karena memang tersedia ruang untuk makna sederhana, literal, dan factual based on historical background dari hijrah.

Namun kini, sang makna literal hijrah itu sudah jauh tersingkir oleh narasi para universalis latah. Mereka mengkampanyekan makna universal dari hijrah sampai kita lupa bahwa hijrah itu "pindah lokasi". Kita didorong oleh para universalis untuk berpikir bahwa hijrah itu adalah perpindahan dari hal yang buruk menuju hal yang baik. Dari kebodohan berhijrah menuju pencerahan; hijrah dari ketidakbaikan menuju kebaikan. 

Apakah makna hijrah yang universal itu benar? Tentu banyak sekali kebenaran di dalamnya, bahkan memang harus kita dorong agar berbagai pesan agama dapat ditemukan makna universalnya supaya terus semakin relefan kehadiran agama dimanapun dan kapanpun. 

Namun apakah keuniversalitasan makna hijrah dapat menjadi alasan kita menafikan makna dasarnya? Rasanya tidak begitu juga kali ya. Hijrah yang dasarnya hanya sekedar pindah tempat pun harus kita ingat karena "tempat" adalah komponen penting dalam kehidupan kita, termasuk agama.

Banyak ritual ibadah yang harus pada tempat tertentu. Thawaf hanya bisa di sekitaran Ka'bah. Kita shalat, tempatnya harus bersih dari najis. Bahkan ada tempat-tempat tertentu yang disebutkan sebagai tempat mustajabud du'a. 

Sekarang kita wrapping ya. Pada momentum muharram ini, mulailah kita mempertimbangkan untuk berpindah dari tempat yang kita dihargai menuju ke tempat yang kita dibutuhkan. Dihargai saja masih kalah dengan dibutuhkan, apalagi tidak dihargai. 

Kita akan kehilangan waktu, peluang, dan banyak hal jika kita masih bertahan di tempat yang disitu kita hanya cukup sekedar ada. Buka jendela pikiran selebar-lebarnya, jika ada tempat lain yang kita diharapkan bahkan dibutuhkan untuk berada disana, segeralah berkemas. 

Coba bayangkan bagaimana nasib sejadah di kamar hotel, hanya di laci lemari yang harus dicari dulu untuk ditemukan. Bandingkan jika sejadah itu ada di mushalla. Ia terbentang berbaris rapi menunggu para mushalli. Bayangkan nestapa nya para pejuang rakyat dikeroyok di meja rapat oleh para penjual rakyat. Bayangkan betapa jenuhnya seorang kyai yang membuang waktu berjam-jam hanya untuk menonton suksesi organisasinya yang penuh intrik politik, padahal di majelis pesantrennya beliau ditunggu santri-santrinya yang sudah duduk bersila dengan kitab di meja pendeknya.

Pada tempat yang tidak tepat, sesuatu yang berharga pun menjadi sampah tak berguna. Pada tempat yang benar, sesuatu yang sederhana pun akan menjadi penentunya. Hijrah pada makna dasarnya yang berarti berpindah tempat itu, ternyata bukan sekedarnya sehingga Rasulullah SAW pun hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Hijrah kemana kita? Temukanlah madinah mu, 

Pindahlah ke tempat yang anda disitu dibutuhkan. dari pada bertahan di tempat yang anda tidak diperlukan bahkan cenderung dikerdilkan. 

Wassalam, WHS

Tidak ada komentar:

(Do not) Go with the flow

Jadi ingat dengan catatan lama tentang sabar [ Sabar seperti air: unstopable ] yang mengajariku bahwa sabar bukan pasrah menyerah, bukan men...